Search posterous

Search all posts and users. Type a name, type a favorite song title, whatever! See what comes up.
  

More posterous blogs











More recommended blogs »

Here are posterous posts filed under margondaraya...

Todo says...

Jika Kelapa Gading memiliki Pastel Ma’ Cik yang tersohor, Depok punya Risol d’Risz. Uniknya, risol goreng ini bukan berasal dari daerah jalan protokol kota Depok, Margonda Raya. Makanan yang satu ini malah berasal dari daerah Depok yang lebih dalam lagi, Mal Depok Town Center. Pemilik usaha ini adalah Ibu Rosalina, berasal dari Sumatra Barat, yang tidak pernah membayangkan usahanya akan berkembang besar hingga memiliki lima cabang, DeToS, Margo City, Cinere dan Cilandak.

Sajian di tempat ini cuma satu jenis saja, Risol Goreng. Yang istimewa adalah isinya yang bermacam-macam: daging ayam, sapi, ikan Tuna, ham, susu keju. Ini yang membuat risol d’Risz menjadi spesial dan berbeda dari lainnya. Ukuran risolnya sendiri juga besar. Makan tiga risol goreng saja sudah cukup untuk mengganjal perut, pas untuk makan santai. Citarasa risol d’Risz termsuk enak sekali. Daging ayam/sapi/ikan tuna yang menjadi isi adalah pilihan yang terbaik. Dan karena risol goreng ini baru dimasak sesudah dipesan, nuansanya menjadi lebih gurih.

Bicara harga, risol ini termasuk murah. Setiap risol, apapun isinya, dijual dengan harga Rp3500,-. Kalau ada yang berpendapat mahal, maka harus diingat bahwa risol D’Risz bukan risol biasa yang diisi bihun dan suiran sayur. Buat yang membeli banyak, Anda akan mendapat satu risol gratis apabila membeli 10 risol. Hmm, tawaran menarik buat yang mencari penganan untuk acara arisan atau pesta.

Begitu istimewanya Risol d’Risz, tempat ini sudah mendapatkan liputan dari SCTV dalam acara Cabe Rawit. Nah, apalagi yang ditunggu? Silahkan datang ke Depok jika ingin mencicipi risol D’Risz yang istimewa ini. Biarpun begitu, orang Jakarta kini tidak perlu datang jauh-jauh lagi ke Depok karena D’Risz sudah membuka gerai di beberapa mal Jakarta. Mutu risolnya pun tidak berbeda. Di Depok, gerai risol goreng D’Risz terdapat di lantai Ground DeToS, dekat eskalator dan di Mal Depok Town Center (DTC), depan perumahan Depok Maharaja. Lokasi yang paling dekat adalah DeToS. Sedangkan DTC terlalu jauh, lalu lintasnya sudah terkenal macet. Oh ya, di mal Margo City juga ada risol d’Risz tapi pakai nama yang berbeda.

<br /><small>View Pesona Kuliner Depok in a larger map</small>

             

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Nasi Pecel, siapa yang sudah pernah dengar? Buat sebagian pembaca, mungkin ini bukan hal asing. Akan tetapi, buat orang yang bukan atau belum pernah ke Jawa Timur, ini adalah hal baru. Di Depok, sebuah rumah makan sudah lama mengusung menu makanan tradisional ini sebagai menu utama. Kira-kira 15 tahun yang lalu, sepasang suami istri dari Jawa Timur memulai usaha berjualan nasi pecel. Perintis usaha ini adalah Soeharto dan istrinya Irawati, yang namanya dipakai sebagai merek dagang. Usaha ini tadinya dimualai dengan berjualan di kaki lima, menggunakan gerobak. Lewat kerja keras dan ketekunan, mereka akhirnya bisa menyewa tempat dan kini rumah makan Nasi Pecel Mba Ira berlokasi di sebelah toko furnitur Index dan diseberang Mal Depok.

Menu yang disajikan di tempat makan ini sederhana saja, Nasi Pecel. Secara umum, nasi pecel tidak jauh berbeda dengan gado-gado plus nasi. Bedanya, sayur di nasi pecel adalah bayam, toge yang disiram kuah kacang dan diberi srundeng, parutan kelapa, dan oseng tempe. Menu standar ini masih ditambah oleh rempeyek, tapi tanpa kacang. Tentunya, makan nasi pecel saja kurang mantap dunk. Jadi, Ibu Ira menyajikan beragam menu untuk lauk nasi seperti ayam goreng/opor/bumbu rujak, tempe/tahu, dan bandeng Presto. Selain nasi pecel, Bu Ira menjual makanan seperti Nasi Rawon dan Nasi Opor Ayam. Rasa bagaimana? Uenak tenan. Nasi pecelnya benar-benar mantap, Pilihan sayurnya bagus--segar dan diolah baik. Lauk sampingannya juga sama enaknya. Ayam gorengnya enak dan tidak berminyak. Sambal buat pendamping ayam juga pedas. Sedangkan yang bandeng Presto belum dicoba karena saya bukan penggemar bandeng. Untuk minum, tamu tidak cuma bisa memilih teh atau air tawar saja tapi juga bisa memesan minuman es, seperti, es campur, es buah, dll. Oh ya, ada juga jus buah--ketimun, jeruk, blewah, dll.

Soal harga, menu di tempat ini mungkin terasa agak mahal dibanding penjual nasi pecel lainnya. Jika cuma nasi pecel saja, ya satu porsinya hanya enam ribu rupiah. Tapi, dengan tambahan lauk seperti ayam goreng, seporsinya dihargai Rp14.000,-. Yang paling mahal jika nasi pecel-nya dengan bandeng Presto, 18 ribu rupiah. Untuk minuman, harganya termasuk murah. Teh dihargai Rp2000,-. Buat jus jeruk, lima ribu rupiah. Harga es campur atau es buah di atas keduanya. Tapi, tenang saja. Harga minuman termasuk standar.

Jika Anda ingin mencoba nasi pecel racikan ibu Ira, Anda bisa mendatangi tempat ini setiap hari mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 8.30 malam. Karena letaknya terjangkau dari jalan Margonda Raya, Anda tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari tempatnya. Kendarai mobil atau motor Anda sepanjang Margonda Raya hingga mendekati bank BCA. Sesudah melewati bank BCA, silahkan menengok ke sebelah kiri karena rumah makan nasi pecel Mba Ira sudah dekat. Selamat menikmati, :)

Catatan:
Bagi saya, ada satu kekurangan dari Nasi Pecel Mba Ira. Kekurangan itu adalah kecilnya porsi nasi yang diberikan. Dengan harga satu porsi yang enam ribu rupiah, mestinya nasi yang berikan dilebihkan sedikit. Karena, sering kali saya, dan orang lain, mengalami dimana nasi sudah habis tapi lauk, sayur pecel dan ayam, masih tersisa. Bahkan apabila hanya membelli nasi pecel tanpa lauk pendamping, sayur lebih sering tersisa daripada nasi. Saya tidak tahu apakah memang seperti ini tradisi nasi pecel atau ada alasan lainnya. Saya pikir akan lebih baik jika porsi nasi di Nasi Pecel ditambah lebih banyak. :)

Silahkan mencari tempatnya di peta di bawah ini.

<br /><small>View Pesona Kuliner Depok in a larger map</small>

                       

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Tempat ini bermula dari sebuah warung tenda kaki lima di pertigaan jalan Kapuk dan jalan Margonda Raya. Pemiliknya ya Cak Wit sendiri. Dari penuturan istrinya, warung ini sudah mulai berjualan dari tahun 1989 hingga sekarang, 20 tahun bo! Berkat ketekunan, kerja keras dan kesabaran, kini Cak Wit dan istrinya tidak perlu lagi berjualan di kaki lima karena mereka sudah mampu menyewa sebuah kios kecil yang tidak jauh dari lokasi berjualan sebelumnya. Ya, masih di pertigaan jalan Margonda Raya dan jalan Kapuk juga.

Sewaktu masih di kaki lima, warung Cak Wit ini menyajikan menu standar berupa nasi Uduk, Pecal lele/ayam goreng, ayam bakar, tahu/tempe goreng, dan soto ayam/sapi/babat. Dan menu ini bertahan lama hingga, setidaknya, 2005. Kini, ragam menunya merambah ke mi/kwe tiau goreng, nasi goreng ayam/kambing, dan bebek goreng. Khusus buat ayam dan bebek, ada pilihan ayam goreng kremes dan saus asam manis. Selain itu, ada pula hidangan ikan mas goreng/pepes/dan bakar.

Buat citarasa, makanan di tempat ini termasuk enak. Ayam gorengnya, goreng biasa dan kremes, dimasak bagus dan tidak terlalu kering. Dagingnya juga enak. Buat yang versi kremes, saya rasa kremesnya tidak segaring kremes seperti ayam Kalasan. Sedang buat ayam bakar, kuah kecap lebih mendominasi daripada bumbu ayam bakarnya. Hidangan lele di warung ini termasuk standar untuk lidah saya. Nasi goreng termasuk enak, apalagi yang nasi goreng kambing. Pilihan daging kambingnya bagus karena empuk dan tidak alot. Saya belum mencoba menu ikan mas tapi bebek gorengnya enak, bumbunya enak dan terasa di lidah.

Harga makanan di tempat warung Cak Wit termasuk murah. Kisaran harganya dimulai dari sepuluh ribu rupiah hingga dua puluh ribu rupiah. Ayam dan lele goreng biasa dihargai Rp8.000,- Buat yang pesan menu kremes harus membayar lebih mahal, Rp13.000,- Buat bebek, harganya lebih mahal dari ayam, paling tinggi Rp18.000,00. Menu mi/kwe tiau/bihun termasuk murah, sepuluh ribu hingga dubelas ribu rupiah. Dengan harga per porsi yang murah, tidaklah mengherankan jika tempat makan ini sering dikunjungi mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Universitas Gunadarma kampus Margonda, selain oleh orang-orang umum.

Waktu masih berjualan di kaki lima, warung Cak Wit ini cuma buka malam hari. Sekarang, Cak Wit sudah mulai melayani pengunjung mulai dari jam 10 pagi hingga malam hari. Ini semua bisa terjadi karena dia sudah mampu mengontrak lahan khusus untuk restorannya. Jika Anda sedang berada di sekitar jalan Margonda Raya, tidak jauh dari Universitas Gunadarma kampus Margonda, tempat ini layak dikunjungi saat perut sedang lapar. Dan Anda tidak perlu khawatir apabila pengunjungnya ramai. Warung ini biasanya baru mendapat banyak tamu di jam makan siang saja. Apalagi yang ditunggu? Selamat bersantap, :)

Catatan: Sambal di warung Cak Wit mungkin terasa kurang pedas buat di lidah beberapa orang. Nasi gorengnya termasuk enak sedang mi gorengnya kurang mantap citarasanya. Sedang menu ayam bakarnya lebih mengandalkan kuah kecap daripada cita rasa bumbu bakar. Semoga ini bisa menjadi bahan peningkatan mutu di masa depan.


                         

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Warung Nasi Uduk dan Pecel Lele/Ayam adalah tempat makan yang paling banyak tersebar sepanjang jalan Margonda Raya. Salah satu warung nasi Uduk yang sudah lama berjualan adalah Nasi Uduk 55. Tempat ini istimewa karena sudah berdiri selama satu dekade lebih, luar biasa. Buat orang yang sudah lama di Depok, warung ini dulunya berdiri di tempat yang sekarang menjadi jalan Juanda. Jadi, warung tersebut berada di sebelah kiri jalan Margonda Raya, dari arah Jakarta. Karena tempat lama sudah menjadi jalan raya, kini Nasi Uduk 55 pindah ke sebelah kanan Margonda Raya, dari Jakarta.


Menu yang terdapat di warung ini sederhana saja: ayam goreng/bakar, lele goreng, tahu/tempe goreng, sate usus/ati/ampela goreng dan seafood. Khusus seafood, menunya terbatas. Buat nasi, pembeli bisa memilih nasi Uduk atau putih. Yang membedakannya dari warung lain, tempat ini sama sekali tidak menyediakan menu soto. Jadi, penggemar soto harus mencarinya di tempat lain. Bicara soal rasa, masakan di Nasi Uduk 55 termasuk standar. Mutu masakannya sendiri termasuk bagus. Daging ayam dan lele yang disajikan termasuk baik dan segar. Sambal yang disuguhkan bisa dibilang jantan, pedasnya menyengat. Yang membuat sambalnya demikian pedas adalah campuran cabe rawit di dalamnya. Sedang nasi uduknya enak tanpa sebuah keistimewaan tertentu.


Harga makanan di warung ini juga murah. Ayam goreng dihargai 7000 rupiah sedang bakar 8 ribu rupiah. Harga menu lele goreng lebih murah seribu rupiah dengan ayam goreng. Sedangkan harga sate ati/ample/usus adalah seribu rupiah per tusuk. Nasi uduknya seporsi ditebus Rp2000,-. Untuk minum terdapat pilihan biasa seperti air tawar, teh manis, dan es jeruk. Semuanya dengan harga dua ribu rupiah saja. 


Warung ini buka dari jam 6 sore hingga jam 12 malam, tergantung persediaan makanan tentunya. Seandainya Anda sedang berada di jalan Margonda Raya pada malam hari, khususnya sekitar pertigaan jalan Juanda, Anda bisa menyambangi warung ini untuk bersantap malam. Jangan terkecoh oleh penampilan luarnya yang terkesan agak kotor, karena bagian dalam warung justru bersih dan rapih. Pengunjungnya saja banyak setiap malamnya. Waktu tunggu di warung ini juga terbilang pendek karena juru masaknya cekatan dalam mempersiapkan makanan dan memasaknya. Mungkin ini yang membuat warung ini sering dikunjungi orang. Namun, bila Anda memesan menu yang dibakar, Anda perlu menunggu agak lama. 


Tertarik? Jika Anda berada di Margonda Raya, melajulah ke arah pertigaan Juanda, supir bus/angkot tahu betul tempatnya. Seandainya Anda memakai kendaraan pribadi, cari saja pertigaan yang memiliki lampu lalu lintas yang dengan alat pengukur waktu, timer. Penanda paling jelas dari pertigaan Juanda adalah sebuah toko elektronik yang memajang banyak unit AC di etalasenya. Selamat menikmati, :)

                 

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Haruskah jatuh korban baru PemDa Depok bertindak. Semenjak proyek pelebaran jalan Margonda Raya dimulai, gapura masuk kota Depok tidak kunjung diangkat demi kemudahan pekerjaan. Sekarang yang ada jalan Margonda Raya dengan gapura di tengahnya. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi pengguna jalan seperti pengemudi mobil dan pengendara sepeda motor atau sepeda kayuh. Kalau malam, kondisinya bisa berbahaya, terutama bagi orang luar Depok.

Hei Nur Mahmudi, apa yang kamu tunggu?

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Bicara tentang minuman kopi, orang biasanya juga bicara tentang kafe. Di Depok, jumlah kafe yang orisinal bisa dibilang sedikit. Salah satu kafe asli dari Depok adalah Dieng Koffie yang sudah berdiri dari tahun 2007, jadi umurnya sekarang sudah dua tahun. Kedai kopi yang satu ini letaknya mudah dicari karena dia berada di dalam mal DeToS, lantai dua. Pemilik tempat ini adalah seorang pemuda bernama Dicky. Sebelum membuka bisnisnya di DeToS, dia sendiri memang dulunya berkecimpung dalam dunia perkopian. Dia sudah pernah bekerja di beberapa kafe terkenal di Jakarta dan terakhir bekerja sebagai konsultan khusus untuk urusan kopi: memilih jenis kopi dan melakukan pembelian. Sekarang, dia memilih untuk memulia bisinisnya sendiri berbekal pengalaman kerjanya dahulu. :)

Seperti namanya, kopi adalah sajian utama di tempat ini. Berbagai macam minuman kopi disajikan mulai dari yang panas hingga yang memakai es, ice blended. Sebagai pembeda dari kafe-kafe yang umum, biji kopi yang dipakai berasal dari daerah Dieng. Menarik bukan? Biasanya kafe menyajikan biji kopi dari daerah-daerah yang sudah terkenal seperti Sumatra atau Toraja. Minuman kopi yang dijual juga bukan hidangan standar seperti yang kita kenal selama ini. Selain Espresso, Cappucino, Caffe Latte, Dieng Koffie juga menyajikan beberapa jenis minuman yang merupakan kreasi sendiri, contohnya, Blackforest Iced Coffee, Drizzle Caramel Latte, Choco Mint, Tiramisu Iced Coffee, Affogato Coffee, dll. Selain kopi, ada pula hidangan ringan sebagai pendamping minuman. Sajian tersebut adalah muffin, sup Zuppa, pie, dan kue-kue ringan.

Mengingat lokasinya di daerah Depok yang mana pendudukanya bukan berasal dari kalangan menengah atas, Dieng Koffie menyajikan harga yang ramah dan bersahabat. Untuk kopi panas, harga yang disajikan berkisar pada 10 ribu hingga 13 ribu rupiah. Sedangkan kopi jenis ice blended dijual pada rentang 11 ribu hingga 15 ribu rupiah. Jelas toh, lebih murah daripada J.Co atau Gloria Jeans sekalipun. Dengan cara ini, orang Depok yang senang menikmati kopi bermutu memiliki alternatif tempat ngopi selain di kafe-kafe mahal.

Bicara soal citarasa, minuman kopi dari Dieng Koffie memiliki rasa yang enak sekali. Kopi Dieng ternyata tidak kalah dari kopi Sumatra atau Toraja. Pelayanan dan penyajian di kafe ini termasuk baik. Pelayannya ramah dan mau memberikan keterangan bagi konsumen yang mengajukan pertanyaan. Bahkan Bung Dicky sendiri kadang hadir sebagai barista dan kasir untuk melayani para pembeli. Keprofesionalan dari kafe ini juga terlihat dari alat-alat untuk membuat kopi yang terlihat lengkap dan tidak berbeda dari peralatan yang dimiliki Starbucks sekalipun. Pendek kata, walau harga murah, tempat ini dikelola dengan sangat profesional. Ini semua tentunya berkat pengalaman kerja Bung Dicky di kafe-kafe terkenal.

Dalam sebuah kunjungan, saya mendapat kesempatan berharga untuk berbicara panjang lebar dengan Bung Dicky sendiri. Dari penuturannya, saya mengetahui bahwa kafe Dieng Koffie ini adalah semacam proyek idealis. Setelah bekerja bertahun-tahun di beberapa kafe terkenal di Jakarta, Dicky memiliki impian untuk membuat kafe dengan citarasa lokal dan membumi. Dia mengatakan bahwa kopi Indonesia tidak kalah dengan kopi luar negeri. Kopi Indonesia pun juga bukan cuma dari Sumatra atau Toraja saja. Mungkin ini yang membuat dia memilih untuk mengangkat kopi Dieng sebagai sajian utama di kedainya. Selain itu, dia mendirikan Dieng Koffie dengan membawa misi untuk mendidik orang Depok bahwa kopi bermutu tidak selalu identik dengan kafe mapan seperti Starbucks atau Coffee Bean. Selama bahan baku kopinya bagus, peracikannya baik, dan penyajiannya rapih, kedai kopi lokal pun bisa bersaing dengan nama-nama mapan dalam bisnis kedai kopi.

Apakah Anda ingin mencoba kafe lokal di daerah Depok? Jika Anda sedang berada di sekitar mal Margo City, DeToS, atau Gramedia Depok, langkahkan kaki Anda menuju pujasera (Food Court) di lantai 2 DeToS. Anda tinggal mencari papan nama Dieng Koffie atau bertanya pada petugas pujasera yang ada di sekitar Anda. Tempatnya memiliki rancangan yang artistik dengan banyak sentuhan kayu. Dan jika Anda bertemu langsung dengan Bung Dicky, itu akan menjadi kesempatan baik karena dia tidak akan bosan menjawab pertanyaan Anda seputar kopi. Selamat menikmati, :)

                 

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Anda penggemar nasi goreng? Jika ya, Anda perlu mencoba nasi goreng di warung “Nasi Goreng Super. Warung ini terletak di pinggir kanan jalan Margonda Raya, di seberang “Warung Bu Yanti” dan sesudah mal Margo City. Saya tidak tahu kapan berdirinya, yang pasti saya mulai mengenalnya dari tahun 2004. Teman saya yang tinggal di daerah sekitar warung itu mengatakan kalau tempat makan tersebut sudah berjualan lebih lama lagi. 


Menu yang disajikan di warung ini sangat sederhana, nasi goreng, mi goreng dan mi rebus. Untuk isinya, ada empat pilihan seperti isi ayam, bakso, sosis, atau kambing. Buat mi rebus, isinya cuma ayam saja. Citarasa masakannya termasuk enak meski kurang citarasa khas. Rasa yang menonjol adalah pedas, tapi tidak pedas sekali. Yang top dari warung ini adalah porsi makanannya yang lumayan besar. Biarpun ini cuma kelas warung gerobak bertenda, porsi nasi dan mi-nya tidak kecil seperti warung nasgor lainnya.  Buat minum, pilihannya cuma tiga--air tawar, teh tawar, teh manis hangat/dingin.


Harga per porsi di warung ini tidak semurah warung nasgor lainnya. Sepiring nasi goreng dihargai 8.000 sampai 9.000 ribu rupiah, tentunya ini tergantung pakai isi apa. Paling mahal adalah nasi goreng kambing, 11 ribu rupiah termasuk teh manis hangat. Walaupun lebih mahal sedikit dari penjual nasgor lainnya, warung ini tidak sepi pembeli. Sepintas dari luar tempatnya terlihat sepi, tapi setiap jamnya selalu ada dua atau tiga yang datang untuk bersantap. Bahkan, beberapa pembeli adalah pelanggan tetap. Menurut teman saya, makin malam warung nasgor ini malah makin dikunjungi banyak pembeli. 


Warung “Nasi Goreng Super” resmi beroperasi mulai dari sore hari, biasanya dari jam 6.30 hingga dagangannya habis. Jika Anda datang dari arah terminal bus Depok, warung ini ada di sebelah kiri, sesudah SPBU Margonda Raya, tepat di depan sebuah bengkel mobil dan di sebelah kiri toko sepeda Polygon. Karena itu, kalau Anda sedang berada di sekitar Margonda Raya pada malam hari dan ingin makan sesuatu yang tidak terlalu berat, Anda bisa bertandang dan bersantap di warung ini. Jika Anda makan di warung pada jam 9 malam, Anda akan mendapat kesempatan untuk makan bersama SPG cantik dari Matahari Dept. Store yang telah selesai bertugas di mal DeToS, ;). Jadi tunggu apalagi? Selamat bersantap, :)

           

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Amboi masakan Padang lagi. Yang satu ini adalah RM Padang yang masih baru. Tempat ini terletak di jalan Margonda Raya, tepatnya di seberang SPBU Pertamina sesudah perumahan Pesona Khayangan. Restoran ini baru setahun berdiri namun punya prospek yang baik karena keunggulan citarasanya.

Walaupun menu di RM ini tidak ada bedanya dengan restoran Padang yang lain, masakannya memiliki citarasa yang sangat lezat, bumbunya asli Padang. Yang disajikan di restoran ini adalah ayam goreng/gulai/bakar, lele goreng, rendang, paru, dendeng, sayur singkong, telur dadar, dan lainnya. Menu kesukaan saya adalah gulai, telur dadar dan rendangnya. Bumbu gulainya agak kental dan terasa santannya. Bumbu rendangnya juga enak sekali, sepertinya memakai resep yang asli dan tidak dimodifikasi. Telur dadarnya sendiri saya sukai karena rasanya dan bentuknya yang unik. Bentuknya tidak tebal seperti di restoran lain melainkan tipis, tidak memakai tepung pengembang. Bakwan garing udangnya juga enak. Sayur yang disajikan biasanya cuma singkong dan sayur campur. Sayur nangka jarang mereka jual. Kelebihan yang lain, seperti halnya RM Patapang, setiap nasi pesanan tamu selalu dibubuhi bumbu rendang.

Untuk harga, masakan di restoran ini agak mahal. Untuk seporsi nasi, sayur, ayam bakar dan teh manis, saya membayarnya sebesar 13 ribu rupiah. Sepertinya, kalau mau murah harus beli nasi, sayur dan lele goreng nih. Biarpun mahal, pengunjung restoran bisa dibilang banyak, apalagi pas jam makan siang. Bicara tentang porsi nasi, porsi yang ada mungkin terlalu kecil buat yang biasa makan di warung Padang. Tapi, porsi kecil ini ideal buat mereka yang sedang memperhatikan ukuran pinggangnya,

Jadi, seandainya Anda sedang ada keperluan di sekitar Pesona Khayangan dan kepingin makan siang, Anda bisa mendatangi RM Sanamo Rempah untuk bersantap. Lokasinya mungkin agak sulit dicari karena posisinya yang kurang strategis. Tapi, kalau Anda sedang berada di sekitar Lippo Bank, FIF atau Bank Mandiri Margonda, anda tinggal mencari sebuah restoran yang terletak di seberang SPBU Pertamina. Meskipun harga porsinya mahal, citarasanya termasuk sangat saya rekomendasikan kuat.

PS: Sayangnya ada satu kekurangan, ukuran ayamnya sangat kecil. Dengan harga yang mahal, harusnya ukuran ayam lebih besar.

     

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Yak, setelah menunggu sekian lama, akhirnya saya menulis tentang bubur ayam. Menu yang satu ini sangat populer di Indonesia karena ia adalah menu favorit untuk sarapan pagi atau apabila kondisi badan sedang demam. Kalau orang barat makan sup ayam bila sedang pilek, di Indonesia orang justru makan bubur. Di sepanjang jalan Margonda Raya terdapat banyak tukang bubur ayam. Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas tukang bubur ayam langganan lama saya yang berada di seberang toko buku Gramedia Depok.

 

Warung bubur ayam ini memiliki judul: Bubur Ayam Spesial. Pemilik dan penjual bubur ternyata orang yang berbeda. Pemilik, penanam modal, sepertinya yang membuat bubur dan menyediakan tempat dagang. Sedang penjual adalah orang lain. Tempat mangkalnya tidak jauh dari RM Padang Bunga Cempaka. Dia berada persisi di depan sebuah rumah. Di sebelah kanannya sendiri terdapat bengkel las. Warung ini buka dari jam 6 pagi. Karena letaknya yang dekat dengan gang yang menuju stasiun kereta PondoCina, warung ini biasanya menjadi tempat sarapan pegawai kantor yang akan berangkat ke Jakarta dari stasiun kereta Pondok Cina. Pada hari Minggu, warung ini menjadi tempat sarapan orang-orang yang habis berlari keliling UI.

 

Rasa bubur di warung yang satu ini termasuk enak. Di bilang enak karena rasanya cenderung netral, tidak pakai merica ataupun siraman kaldu tertentu. Bubur dan bumbu sudah dimasak menjadi satu. Saat ada yang memesan, penjualnya hanya perlu menambahkan siraman kecap manis dan kecap asin untuk kuah buburnya. Sebagai tambahan, di dalam bubur ditaburi sedikit cuilan daging ayam, rajangan seledri, potongan kecil cakwe, serta taburan kacang. Tentu saja, krupuk dan emping tidak dilupakan. Untuk hidangan sampingan, pembeli akan mendapat sepiring sate jeroan--usus, telur puyuh, ati empela.

 

Harga bubur per porsinya adalah Rp5.000,- Terjangkau sekali buat kantong warga kota Depok. Tapi kalau makan sate, akan ada tambahan 1000 rupiah per tusuk. Porsi buburnya sendiri kecil, tapi pas buat mereka yang mau sarapan dan harus bergegas pergi. Tidak enak kan kalau berangkat kerja/kuliah pagi dengan perut kekenyangan?

 

Jika Anda sedang berada di jalan Margonda Raya pada pagi hari dan ingin sarapan, saya merekomendasikan tempat ini. Rasa buburnya yang netral tidak akan membuat lidah Anda harus melakukan penyesuaian diri. Dengan harga yang murah dan porsi yang ideal, Anda sudah mendapatkan sarapan yang baik di pagi hari. Selamat bersantap, :)

       

Filed under: Margonda Raya

Todo says...

Lagi-lagi warung tenda kaki lima di Depok. Kali ini adalah warung soto dan pecel milik Cak Ali. Tempat makan sederhana namun besar ini berada di pinggir jalan Margonda Raya, namun mengarah ke Jakarta. Letaknya sendiri ada di seberang toko buku Gramedia, agak ke kiri sedikit. Berdiri dari tahun 1995, warung ini hanya mengkhususkan diri pada pecel dan soto.

 

 

Menu yang disajikan di tempat ini standar dan cita rasanya termasuk lumayan, ada pecel ayam/lele, ayam bakar, soto ayam/sapi, tahu/tempe goreng, dan yang spesial pepes ayam. Rasa sajiannya termasuk lumayan, tidak berbeda dengan warung pecel lainnya. Ayam goreng dan bakarnya dimasak baik dan dagingnya empuk. Saya belum coba menu soto, tapi saya sudah mencoba menu istimewa, pepes ayam. Yak, ini jarang ditemukan di warung tenda sepanjang jalan Margonda Raya. Rasa pepes ayamnya enak, bumbunya seperti pepes ikan yang biasa kita temui di warung makan umum. Hanya saja, bumbu yang diberikan kebanyakan sehingga cita rasa ayamnya kurang terasa. Selain menu yang di atas, sambal yang diberikan sebagai teman bersantap juga kurang menggigit pedasnya.  Padahal, pepes ayam ini adalah ciri khas dari warung Cak Ali.

 

Untuk urusan harga, warung tenda ini sama dengan yang lainnya. Kisaran harga untuk nasi dan pecel ayam/lele adalah 12 ribu rupiah. Kalau ditambah tahu/tempe goreng, maka ada penambahan 1000 rupiah. Untuk nasi pepes ayam plus teh manis, jadi 15 ribu rupiah. Cukuplah buat ukuran kantong orang Depok.

 

Jadi, bila Anda sedang kelaparan dan berada di sekitar Margo City, DeToS, atau Gramedia, silahkan bertandang ke warung Cak Ali. Hanya saja, warung ini baru buka sore hari, sekitar 5.30. Lucunya, kadang-kadang warung ini buka pada siang hari juga. Waktu ditanya tentang jam buka yang tidak rutin ini, Cak Ali bilang bahwa hal itu terjadi karena kurangnya tenaga untuk mengurusi warungnya. Kalau karyawan lagi banyak, dia buka dari siang. Tapi bila karyawan sedikit, dia buka di sore hari saja. Warung ini terletak persis di samping warung tenda sate Padang Pariaman dan warng Martabak Bangka. Selamat bersantap, :)

 

           

Filed under: Margonda Raya