Search posterous

Search all posts and users. Type a name, type a favorite song title, whatever! See what comes up.
  

More posterous blogs











More recommended blogs »

Here are posterous posts filed under itb...

Todo says...

Salam hangat,

Dalam Kompas edisi Jumat (24/7) terdapat pemberitaan tentang persidangan yang dilakukan dewan akademik ITB terhadap beberapa mahasiswanya yang tertangkap tangan dalam kasus perjokian SNMPTN di Makassar. Pencarian fakta telah dilakukan dan keputusan telah dibuat. Kalian telah mendapatkan sanksi dari Dewan Akademi ITB dalam sidang yang baru-baru ini dilakukan. Mayoritas dari kalian mendapatkan hukuman pemecatan dari kampus dan segelintir mendapatkan skors. Bahkan ada pula usulan agar kalian dimasukan ke dalam daftar hitam agar tidak diterima untuk kuliah di universitas manapun. Meski hukuman baru dijatuhkan, terungkapnya kasus perjokian itu sendiri sudah “menghukum” kalian sejak awal. Saya hanya bisa membayangkan perasaan kalian waktu tertangkap tangan; resah, kalut, serta galau. Segala sesuatu langsung menjadi berbeda. Dan ketika kalian harus menjalani persidangan di depan orang-orang yang menjadi dosen kalian, perasaan yang dialami akan seperti: sesak di dada, malu di hadapan teman-teman sekampus, putus asa, dan merasa kerdil di depan orang tua. Masa depan cerah yang di bayangkan selama ini tiba-tiba langsung menjadi suram.

Dari sudut pandang hukum dan akademis, perbuatan yang kalian lakukan adalah salah dan harus dipertanggung jawabkan. Dalam artikel di Kompas tentang sidang yang kalian hadapi, tergambar bahwa kalian hanya bisa pasrah dalam menerima hukuman yang diberikan. Entah dipecat atau diskors, perbuatan kalian ini sudah tercatat hitam di atas putih dalam sejarah akademis ITB dan sejarah kehidupan pribadi kalian. Mereka yang mengenal kalian--di sekolah, di kampus, di rumah--tidak akan mudah melupakan hal tersebut. Dari mereka semua, ada yang merasa prihatin, ada yang mencela, dan ada yang meledek. Dan apabila kalian memiliki musuh, orang-orang tersebut akan sangat menyukai kesempatan ini sebagai cara untuk menyerang diri kalian di saat yang paling lemah.

Salut
Meskipun begitu, melewati hujan kritikan, cacian, celaan, sinisme, sindiran, saya meyatakan kebanggaan atas sikap dewasa yang kalian perlihatkan. Lewat berita tentang kalian yang saya ikuti di Kompas, saya kagum melihat sikap dewasa yang tinggi dalam menerima konsekuensi dari perbuatan kalian. Saya sepertinya tidak melihat adanya upaya dari kalian untuk menyalahkan pihak lain ketika aksi tersebut ketahuan. Dan meskipun kalian memiliki hak untuk membela diri, kalian tidak terjerumus dalam sikap mengemis atau cengeng demi mendapatkan pengampunan. Saya betul-betul kagum dengan hal tersebut, padahal kalian baru mahasiswa tahun pertama.

Tak dapat disangkal lagi bahwa catatan kehidupan kalian yang selama ini baik telah ternoda oleh sebuah tindakan tercela. Namun, janganlah kalian pernah melupakan noda tersebut. Ingatlah itu selalu! Dan janganlah marah apabila orang-orang di kemudian hari selalu mengungkit-ungkit peristiwa memalukan tersebut. Biarlah mereka mengingatnya agar kalian tidak lupa. Jangan pula menutupinya karena pada kenyataanya tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini. Di salah satu tembok Universitas Atma Jaya Jakarta, terngantung sebuah papan dengan kalimat mutiara tertulis di atasnya. Kalimat itu berbunyi, “Mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya adalah orang yang tidak pernah belajar hal baru.” Ya, betul. Kesalahan atau kegagalan selalu memberikan kita hal baru untuk dipelajari. Dari kesalahan kita belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan benar. Dari kegagalan, kita tahu apa yang harus dihindari agar bisa meraih kesuksesan. Dan apa yang dapat dipelajari dari kesuksesan? Tidak ada yang didapat selain pujian dan rasa bangga di hati.

Bangkit Kembali
Hukuman yang kalian terima kemarin bukanlah bab terakhir dalam kehidupan kalian. HIDUP MASIH PANJANG! BERJUANGLAH! Yang kalian alami barulah satu dari sekian episode kehidupan yang telah kalian jalani. Dan itu belum lagi menjadi episode yang terjelek. Hei, bagaimana dengan mereka yang tertangkap dalam kasus korupsi, kasus video cabul, perselingkuhan? Terimalah dengan lapang dada hukuman kalian dan jadikan itu sebagai lecutan cambuk untuk memperbaiki diri di masa depan. Potensi yang kalian miliki di dalam diri kalian masih besar. Universitas BUKANLAH satu-satunya tempat untuk mengolah dan mengembangkan diri. Masih banyak tempat yang bisa dipakai untuk menyalurkan bakat besar kalian. JANGAN BIARKAN diri kalian TENGGELAM dalam kesedihan dan malu yang berlarut-larut. BERDIRI TEGAP! ANGKAT DAGUMU! TATAP kehidupan di depanmu. Kegagalan yang lebih parah dari kalian masih banyak, jadi JANGAN jadikan kegagalan kali ini sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Kejadian kemarin telah menjadikan diri kalian LEBIH BAIK daripada teman-teman kalian. Saat teman-teman kalian masih sibuk mencari cara untuk mendewasakan diri atau mencari identitas sejati, kalian malah sudah menemukan pijakan untuk membangun jati diri dan kedewasaan kalian. Karena itu, BANGKITLAH! BANGKITLAH untuk diri kalian sendiri, bukan untuk orang lain. Ini kehidupan kalian!

Seorang jendral besar Amerika, Patton, pernah ditanya tentang cara ia menilai prajuritnya. Jawaban dia, “I don’t measure a man by how high he climbs, but how many times he gets up everytime he hits bottom.” Terjemahan bebasnya seperti ini, “Saya tidak menilai seseorang dari seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi dari berapa kali dia bangkit setiap kali dia terjatuh.” Dan itulah inti dari kesuksesan, perjuangan. Saat orang jatuh, dia akan secara alamiah bangkit kembali. Jika ia terjatuh kembali, dia akan kembali bangkit lagi. Bagaimana jika ia terjatuh berkali-kali? Dia tetap harus bangkit, yang mana ini bukanlah proses alamiah. Pada situasi itu, motivasi seseoranglah yang akan membuat ia bangkit kembali. Selama tujuan yang ingin diraih belum tercapai, orang tersebut tidak boleh berhenti. Mereka yang jatuh dan menolak untuk bangkit adalah orang yang tidak akan pernah meraih impiannya, tidak pernah menyelesaika pekerjaan yang dimulai (a quitter). Mereka hanya akan terduduk diam menerima keadaan yang menimpa mereka, pasrah. Dan itulah hal yang harus kalian hindari.

Adalah proses jatuh bangun yang membuat kalian dewasa dan mampu meraih impian pribadi kalian. Oleh sebab itu, jangan biarkan api membara di hati kalian padam. Sebaliknya, lindungilah api tersebut. Jaga ia dari terpaan angin, sekencang apapun. Jika hujan turun, buatlah peneduh untuk menjaganya tetap menyala. Segelap apapun keadaan di sekeliling kalian, api itu akan menjadi suluh yang menerangi perjalanan kalian. Dan sekecil apapun nyala api itu, lidahnya akan menghangatkan dalam kesepian yang mengigit sekalipun.

Kesempatan Kedua
Meskipun sudah bukan mahasiswa, masih ada banyak peluang terbuka di luar kampus buat kalian. Kalian bisa mengembangkan potensi diri lewat jalur kursus seperti kursus montir, desain grafis dan animasi komputer, memasak, menjahit, fotografi, filem, menulis dan lainnya. Pengalaman kalian sebagai joki SNMPTN bisa dikembangkan menjadi sebuah novel yang menarik, siapa tahu dapat diangkat menjadi filem. Jika sejarah mencatat kegagalan kalian di SNMPTN, maka novel dapat menjadi wadah untuk mengubah sejarah menurut versi kalian sendiri. Jika novel dirasa sulit, kembangkan cerita itu menjadi komik novel grafis seperti 300, V for Vendetta, atau Watchmen. Sebagai referensi filem, saya sarankan agar The Perfect Score ditonton, sangat luar biasa.

Cara lain adalah dengan menggunakan potensi kepandaian kalian untuk menjadi guru pembimbing, tutor, bagi para pelajar yang ingin mengikuti SNMPTN di masa depan. Hal ini bisa dilakukan secara mandiri atau dengan bergabung pada salah satu lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) yang semakin menjamur belakangan ini. Selain menjadi pembimbing belajar, kesempatan lainnya adalah dengan mencoba menjadi relawan bagi Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) yang banyak terdapat di masa kini, contohnya, Greenpeace atau WWF. Lewat jalur LSM, bekal pengetahuan yang masih kalian miliki bisa diterapkan secara langsung dalam kehidupan nyata. Bahkan kalian bisa mendapatkan ilmu baru lagi. Dan jika kalian berprestasi, mungkin akan datang pula tawaran beasiswa untuk belajar di luar negeri: Amerika Serikat, Inggris, Australia, dll.

Jika kamu lebih berminat untuk meraih kesuksesan lewat jalur bisnis, kalian bisa mulai merintisnya dengan berwira usaha. Pilih satu bidang yang menarik minatmu--berjualan makanan, alat tulis, buku, tas, aksesoris, pulsa, dsb--untuk kemudian dikembangkan secara serius. Jika belum berani berusaha sendiri, ajak teman-temanmu yang bernasib sama untuk mengumpulkan modal bersama dalam merintis usaha baru ini.

Sebagai saran tambahan, pertahankan selalu ikatan kalian sebagai teman senasib dan sepenanggungan. Bangunlah semacam persaudaraan khusus. Sering-seringlah melakukan kontak lewat surat, surel, telepon. Dan sekali setahun, lakukanlah semacam reuni kecil-kecilan untuk saling berbagi cerita tentang kehidupan sesudah di luar kampus. Yang sudah berhasil bangkit, mohon bantu temannya yang masih berjuang untuk menata kehidupannya. Niscaya, persaudaraan kalian ini akan meretas jalan bagi kalian semua untuk menyonsong fajar baru yang akan merekah di ufuk timur sana.

Filed under: ITB

Todo says...

Pada Kompas hari Selasa, 14 April 2009, terdapat sebuah artikel
mengenai usulan untuk menjadikan ujian nasional (UN) SMA sebagai ujian
seleksi calon mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Usulan ini
muncul karena adanya keprihatinan terhadap rumitnya jalur yang harus
ditempuh calon mahasiswa dan besarnya biaya yang harus dikuluarkan
oleh mereka guna mendapatkan jatah bangku kuliah PTN. Apabila
diterima, usulan ini diharapkan dapat menyederhanakan proses
penerimaan mahasiswa di PTN dan juga mengurangi biaya yang ditanggung
oleh para calon mahasiswa selama ini. Bagi saya ini adalah usulan yang
aneh yang menimbulkan banyak pertanyaan. Pertama, bagaimana bila ada
siswa yang tidak berminat untuk masuk PTN? Katakanlah, siswa itu lebih
suka melanjutkan belajar ke luar negeri atau lebih berminat untuk
kuliah di universitas swasta tertentu. Apa yang akan dilakukan Diknas
apabila ada siswa yang lulus UN namun tidak mengambil haknya untuk
kuliah di PTN? Penyatuan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN)
dengan UN juga akan menimbulkan persoalan baru. Akankah jalur IPC
dipertahankan seperti dulu? Apa yang akan dilakukan oleh Diknas
apabila mayoritas murid di seluruh Indonesia dari Sabang sampai
Merauke memilih untuk kuliah di UI? Kemudian bagaimana dengan mereka
yang ingin kuliah di PTN tapi lebih tertarik untuk mengambil program D
3, bukan S 1. Saya justru memiliki gagasan lain mengenai bentuk ujian
masuk PTN untuk masa depan.

Dalam hemat saya, justru yang namanya UMPTN/SPMB/UMB/dan sejenisnya
yang diselengarakan oleh pemerintah harus dihapus. Biarlah murid lulus
dari SMA lewat tata cara yang ditetapkan oleh Diknas. Soal kuliah atau
tidak, itu sepenuhnya adalah kebebasan murid untuk memilih. Justru
universitas di Indonesia yang harusnya didorong untuk mengadakan ujian
masuk secara mandiri, seperti yang telah dilakukan dalam dua tahun
terakhir ini oleh UI dengan SIMAK atau UGM. Diknas tidak perlu lagi
repot oleh urusan ujian masuk PTN. Kalau ada anak SMA dari luar Jawa
ingin kuliah di salah satu PTN terkenal di pulau Jawa, katakanlah ITB,
maka dia yang harus datang ke Bandung untuk mengikuti ujian masuk ITB.
Mungkin cara ini akan memberatkan si calon mahasiswa. Namun bila dia
memang bersungguh-sungguh, hal ini akan menjadi bukti akan keseriusan
dan tekadnya untuk belajar di PTN tersebut. Jika ia lulus, dia akan
menjadi mahasiswa yang datang ke ITB untuk belajar, bukan sekedar
beruntung lulus ujian. Begitu pula dengan murid lulusan sekolah di
pulau Jawa yang ingin kuliah di salah satu universitas di Sumatra,
Kalimantan, atau Papua. Jika ada murid dari Bandung yang ingin kuliah
di Universitas Sumatra Utara (USU), dialah yang harus datang sendiri
untuk mengikuti ujian masuk USU.

Cara kedua adalah menjadikan skor UN sebagai persyaratan masuk PTN.
Sekilas ini sama dengan usulan pemerintah di atas tapi ada penjelasan
lebih lanjut. Dalam konteks ini, UN adalah sekedar ujian akhir sekolah
namun bukan ujian masuk PTN. Nantinya, PTN merekrut calon mahasiswa
cukup dengan menetapkan rentang skor UN yang harus dicapai oleh siswa
untuk dapat belajar di universitas itu. PTN unggulan, sepuluh besar,
dapat menetapkan skor minimal yang tinggi bagi mereka yang tertarik
untuk belajar di PT kelompok elit. Murid yang skor UN-nya rendah dapat
mengajukan lamaran ke PTN yang di luar ivy league. Contohnya, UI
menetapkan calon mahasiswanya agar mencetak skor rata-rata UN 9-7, UGM
menetapkan rentang skor 9-7,5 atau UnSri menetapkan skor masuk
7,5-5,5. Mereka yang skor ujian akhir masuk di dalam rentang skor yang
ditetapkan dapat langsung diterima. Sedang yang skornya di luar
rentang harus mencari universitas lain yang menetapkan rentang nilai
rendah.

Yang ketiga, Diknas meniadakan UN. Ini seperti modifikasi dari yang
cara pertama dan kedua. Biarkan murid lulus SMA dengan nilai-nilai
yang pantas untuk mereka peroleh, berdasarkan penilaian prestasi
belajar mereka di sekolah. Ujian masuk PTN? Nah, di sini Diknas
membuat soal standar ujian masuk PTN bersama dengan seluruh PTN di
Indonesia. Jadi, setiap PTN tidak perlu mengadakan ujian mandiri
seperti yang berkembang dua tahun terakhir ini. Nantinya, setiap murid
di Indonesia yang tertarik untuk melanjutkan belajar di universitas
hanya perlu mengerjakan satu ujian saja, UMPTN. Dan mereka tidak perlu
datang langsung ke PTN favorit mereka untuk mengerjakan soal ujian.
Ujian dikerjakan di sekolah masing-masing pada hari yang ditetapkan.
Soal ujian dibuat standar untuk seluruh murid; tidak peduli dia
belajar di sekolah unggulan atau tidak, bersekolah di pulau Jawa atau
luar Jawa, murid cerdas atau rata-rata. Untuk nilai, Diknas tinggal
menetapkan batas nilai terendah nasional saja. Misalnya, nilai
tertinggi UMPTN adalah 4000 dan terendah untuk dapat kuliah 900.
Nantinya, PTN yang ada di Indonesia tinggal merekrut murid dengan
menetapkan rentang skor masing masing. UI bisa menetapkan skor
terendah 3000, Unair 2500, Andalas 2000, atau Cendrawasih 1500. Tapi,
batas skor terendah ini jangan diumumkan kepada umum. Ini bertujuan
untuk memotivasi murid agar belajar untuk dapat meraih hasil maksimal,
bukan sekedar meraih nilai tertentu supaya dapat masuk universitas
tertentu saja. Hasil ujian diumumkan Diknas lewat internet atau pos.
Setelah itu, nilai yang diterima para peserta ujian dibawa oleh
masing-masing siswa untuk diberikan ke universitas favorit tempat
mereka akan melanjutkan proses belajar tingkat tinggi. Kata akhir dari
proses ini sepenuhnya dipegang oleh pihak PTN.

Dengan singkat, ada tiga alternatif ujian masuk PTN yang dapat
diterapkan oleh Diknas untuk masa depan. Dari ketiga pilihan di atas,
saya memfavoritkan bentuk ujian yang ketiga karena mirip dengan SAT
yang ada di Amerika Serikat (AS). Walaupun begitu, saya pribadi lebih
suka model penerimaan ala universitas di Jerman. Di sana, murid-murid
dari sekolah unggulan tidak perlu mengerjakan soal ujian masuk untuk
belajar di universitas. Karena lulus dari sekolah unggulan, mereka
langsung melanjutkan belajar di bangku kuliah universitas pilihan
mereka. Justru yang lulus dari sekolah non-unggulan harus melewati
ujian masuk sebelum dapat kuliah di universitas.

Filed under: ITB

mariusmondo says...

ein journalisten-kollege mailte mir gerade eine einladung die er von der pr agentur mikullagoldmann PR bekommen hat. die betreuen floria auf der itb. was fällt einem nicht alles ein wenn man an florida denkt. sonne, weißer strand, ocean drive, cabrio... da wird einem glatt warm ums herz. am 11 märz soll sie also nun steigen, die große florida sause in der hauptstadt. nicht schlecht habe ich gestaunt was sich die pr strategen da haben einfallen lassen.

die party steigt in der "Leibniz Klause". na wenn das nicht nach sunshine state klingt. schön auch der einladungstext. "genießen sie typische Berliner Spezialitäten in der urigen atmosphäre". na das hat doch mal stil. oh mein gott. was denken sich solche organisationstalente eigentlich? das passt doch vorn und hinten nicht zusammen. wie wärs mit ner heißen cocktail bar oder einem amerikanischen diner? soetwas hätte man doch sicher auch mieten können. leute leute. naja, nichts für ungut. wer lust auf currywurst hat und dabei von palmen und ozean träumen will kann sich hier gern um eine einladung bemühen:

Anita Goldmann & Alexandra Dexel

VISIT FLORIDA® Germany
c/o MikullaGoldmann PR
Bavariaring 38
80336 München

Tel: 089/45 21 86-13
Fax: 089/45 21 86-20
www.mikullagoldmann.de

Filed under: ITB