Ngetop di Youtube?
Sebuah program lama di Radio Singapura Internasional (alm) bertajuk
Pranala. Dalam edisi ini saya mencoba untuk membuktikan bahwa siapapun
bisa ngetop di youtube. :)
Sebuah program lama di Radio Singapura Internasional (alm) bertajuk
Pranala. Dalam edisi ini saya mencoba untuk membuktikan bahwa siapapun
bisa ngetop di youtube. :)
Sekali lagi kearifan khalayak terbukti sangat menolong. Berikut adalah kompilasi dari respons teman-teman menjawab pertanyaan di twitter dan facebook tentang situs web atau blog berbahasa Indonesia yang memuat resep masakan:
Semuanya tautan bisa diakses dan sekilas tampak cukup menarik. Mungkin lain kali akan diulas kualitas isi masing-masing situs.
Idulfietri di Hotel Bluga Premier, Seoul – Korea – November 2005
Saya diundang menjadi pembicara kunci pada Seminar INWEPF (International Network on Water and Ecosytem in Paddy Field) di Seoul Korea bertepatan dengan Hari Raya Idulfietri, November tahun 2005.
Sebenarnya saya sudah dari jauh hari merencanakan untuk berlebaran di Singapura dengan keluarga anak saya “La Rane” yang bekerja di RSI, namun untuk tidak bolak-balik ke Jakarta menjemput isteri saya, saya sekalian mengajaknya ke Seoul selama lima hari, dan pulangnya baru mampir seminggu ke Singapura untuk kumpul-kumpul merayakan Lebaran bersama anak, mantu dan cucu, serta keluarga adik isteri saya dari Makassar (janjian berlebaran di Singapura).
Venue seminar bertempat di Hotel Lotte World, Seoul, berjarak sekitar 2 kilometer dari Hotel Beluga Premier tempat kami menginap. Pada saat hari lebaran, saya mengikuti Seminar, dan isteri saya terpaksa tinggal sendirian di Hotel Beluga, mengusir kesunyian menonton TV sambil membaca majallah yang sengaja dibawa dari Jakarta.
Besoknya, isteri saya diacarakan untuk mengikuti Lady’s Program bersama isteri teman saya dari Malaysia dan Thailand. Sementara saya sendiri mengikuti acara technical tour ke luar kota yang diselenggarakan oleh Panitia.
Hal yang unik sebagai hiburan (pengisi kekesalan) di saat hari kedua lebaran adalah acara makan sidang di suatu perkebunan tanaman obat herbal, di mana menunya terdiri dari berbagai bunga-bunga herbal mentah (katanya untuk berbagai kasiat pengobatan penyekit, sesuai pesanan). Semula saya tidak tertarik, tapi setelan mencobanya, rasanya cukup enak dan membuat kenyang juga. Pada kesempatan tersebut kami juga ditunjukkan sebuah pohon bongsai setinggi setengah meter, yang konon sudah berumur seribu tahun lebih (sangat mengagumkan).
Hal yang juga menarik adalah mengunjungi rumah-rumah tradisional Korea ysang dipindahkan abad lalu menjadi musium sekala 1:1 dengan segala perlengkapannya (karena akan tergenang air waduk yang dibangun Pemerintah Korea waktu itu). Saya menjadi teringat dengan ceritera bersambung pada Film Korea yang ditayangkan di berbagai media TV Indonesia pada tahun 2005-an.
Berikut ini foto-foto dokumentasi pada kunjungan tersebut. Cerita lengkapnya akan kami muat di Web ini pada saat selesai kami siapkan.
Berkunjung ke Aljazair di Tengah-tengah Perang Saudara 1996
Oleh A. Hafied A. Gany
Pada akhir tahun 1996, ditengah-tengah perang saudara Aljazair, saya diutus oleh ICID Indonesia untuk mengikuti Konferensi Afro Asia ke IX, sebagai alternatif terakhir, karena teman-teman yang lain setelah ditawari, menyatakan berbagai alasan, yang menurut hemat saya hanya sebagai penolakan halus.
Setelah mendapatkan visa Aljazair melalui kedutaan Italia di Jakarta, saya berangkat sendirian dengan sedikit perasaan cemas terhadap kemungkinan yang akan terjadi di tengah-tengah perang saudara di Negaranya Ben Bella tersebut. Pada saat itu, kedutaan Indonesia di Aljier ditutup, dan semua staf kedutaan Indonesia sementara diunsikan ke Roma.
Dalam perjalanan, saya sering-sering mendapatkan pertanyaan dari orang lain yang mengetahui bahwa saya akan berangkat ke Aljazair: “apakah tidak takut kena peluru nyasar”. Saya selalu menjawab bahwa saya berangkat sudah dengan berserah diri kepada Tuhan. Toh saya berangkat dengan penugasan atas nama Indonesia.
Di Bandara Algier, saya yang tiba bersamaan dengan delegasi India dan Thailand (empat orang dengan saya), langsung diamankan ke Bus yang dikawal ketat dengan satu regu pasukan bersenjata, dan kita diminta untuk tidak menampakkan diri di jendela bus, yang tiba di hoter Lale(?) sekitar 45 menit kemudian.
Di Hotel, kami langsung disuruh memasuki kamar setelah melalui pemeriksaan “X-ray” terhadap diri dan barang-barang bawaan. Kami diminta supaya tidak keluar dari kawasan hotel kalau tidak ada pengawal.
Selama enam hari tidak banyak yang saya bisa laporkan mengenai materi konferensi, karena semua materi dan komunikasi dilakukan dalam Bahasa Perancis yang saya sama sekali tidak mengerti. Konferensi dihadiri sekitar 500-an orang warga negara Aljazair yang berbahasa Perancis, dan hanya kami berempat yang berbahasa Inggeris.
Sehari sebelum penutupan, delegasi India meminta kepada panitia supaya kami bisa diantar ke kota atau tempat-tempat menarik, supaya referensi kami tidak kosong sama sekali. Melalui pernyataan “menanggung resiko sendiri kalau ada apa-apa” kami berempat diantar ke kota Tipasa, 50 km ke sebelah Barat Algiers, Ibu kota Aljazair, dengan dikawal beberapa orang tentara bersenjata lengkap. Setelah diterima Gubernur, provinsi Barat, kami baru diperkenanken meninjau reruntuhan kota yang dibangun dalam Zaman Romawi (abad ke dua Masehi), di kawasan pantai Laut Tengah (salah satu peninggalan dunia di antara 830 yang sudah terdaftar sebagai “UNESCO World Heritage"
Terlampir beberapa foto-foto bersama keluarga Aljazair, dan pada saat kunjungan ke Tipasa (Cerita mengenai pengalaman selengkapnya akan kami sajikan di site ini setelah selesai disusun).
Serba Serbi Kunjungan Muhibah Ke Beijing China
Oleh A. Hafied A. Gany
Melalui kerja sama dengan INPIM (International Network on Participatory Irrigation Management) kami mendapat kesempatan mengadakan kunjungan muhibah untuk studi banding pengembangan Irigasi dan SDA pada umumnya di China, sambil menyempatkan berkunjung ke tempat-tempat wisata.
Pada kesempatan ini, kami diantar oleh pramu wisata yang bernama Ibu Zao, orang China perantauan yang lahir di Semarang, dan kembali ke RRC pada tahun 60-an mengikuti rombongan Hokiau. Beliau masih sangat fasih berbahasa Indonesia maupun Bahasa Jawa.
Pada saat setelah selesai mengadakan kunjungan wisata meninjau proyek-proyek pengairan di sekitar Beijing, kami diantar oleh Ibu Zao mengunjungi tempat-tempat wisata antara lain: Forbidden City, Istana Kerajaan Musim Semi, Makam Dinasti Ming (Ming Tomb), Tembok Besar China, dan beberapa tempat wisata belanja dan wisata kuliner (antara lain panganan Bebek Peking yang terkenal itu), Wisata Pengobatan Tradisional China, serta cindera mata khas dan mengunjungi atraksi budaya China.
Berikut ini beberapa, foto-foto kenangan kami pada kunjungan muhibah tersebut, termasuk pertemuan kami dengan seorang jemaah Haji dari Provindi di China, yang baru pulang dari Mekkah, dan mengunjungi waduk kkuno yang bertepatan kami kunjungi. Cerita selengkapnya, kami akan sajikan dalam bentuk artikel yang akan kami muat segera setelah selesai disusun .
Bergelut dengan Penyakit Aneh Selama Tiga Tahun (1973-76):
Berobat dari Dokter Spesialis, Sampai ke Belasan Macam Pengobatan Alternatif
Dari tahun 1970 s/d 1974 saya bekerja di Metro Lampung, menempati rumah dinas yang cukup luas rumah dan pekarangannya. Dua anak saya lahir di Metro, kemudian saya dipindahkan bertugas ke Bandarjaya, Lampung Tengah.
Pada tahun 1973, saya menderita penyakit aneh, yang menerpa saya selama tiga tahun baru sembuh, dan selama itu dokter tidak dapat memberikan diagnose panyakitnya. Saya sempat berobat ke segala macam metode pengobatan, mulai dari dokter umum, spesialis penyakit dalam di Metro, Tanjungkarang, Jakarta dan Makassar, sampai ke dukun, orang pintar, sinse, tabib Pakistan, akupuntur, pijat tradisional, pijat fleksi, sampai ke pengobatan ala timur tengah.
Saya hampir-hampir putus asa, dan merasa bosan hidup, selalu dikejar perasaan takut mau mati. Namun yang selalu terpikir oleh saya, dan membuat saya sedih setiap kali melihat kedua anak saya yang baru berumur setahun sembilan bulan dan yang satunya baru berumur tujuh bulan. Selalu terbayang rasa takut dalam diri saya: “Siapa yang akan memelihara kedua anak saya – sementara isteri saya baru menjelang umur 24 tahun.
Berikut ini foto-foto di Metro, dan di Soppeng waktu saya kembali berobat ke Kampung halaman. Pada saat itu saya ketemu foto nenek saya (duduk sebelah kanan depan), pada tahun 1920 atau sekitar 6 tahun sebelum ibu saya lahir. Saya ambil sebagai kenang-kenangan, untuk dibawa ke Lampung (saya tercengang melihat wajah nenek saya, enam tahun sebelum ibu saya lahir – waktu di dunia ini betul-betul cepat sekali berlalu, tiba-tiba saja saya sadar bahwa saat ini saya sudah 36 tahun sejak sakit di Metro dulu).
Bulan Mei 1986, sedang menunggu suami pulang dari IHE Delft, di emplasmen stasiun trem Den Haag; Berhayal sebagai raksasa di negeri Liliput; dan Berpose di depan Istana Buckingham, London. Kini sudah, 23 tahun berlalu tanpa terasa. Semoga Allah senantiasa memberikan Rakhmat dan Perlindungann-NYA kepada Kami sekeluarga, Amieen!